Pages

Pages - Menu

Wednesday, January 4, 2017

Journal: Pencak Dor, Tarung Mati-matian tapi Tak Ada yang Menang


Michael yang berbadan tambun terus menatap tajam Enthing yang berbadan kekar. Keduanya waspada memperhatikan gerak masing-masing. Tiba-tiba, lengan kanan Michael yang dibungkus kain putih, menerobos kesigapan Enting dan menghantam wajahnya. Enting terhuyung jatuh di atas ring.
Sorak-sorai suara langsung bergemuruh di samping ring. Rintik hujan dan dinginnya angin tak lantas mengurangi panasnya ring yang didirikan di tengah-tengah Lapangan Kauman, Srengat, Blitar, Jawa Timur, Sabtu malam, 17 Desember 2016.
Kedua petarung merupakan "musuh bebuyutan". Mereka sudah tiga kali bertanding dalam setahun terakhir. Laga kali ini merupakan yang terakhir buat Michael, yang akan pensiun di arena Pencak Dor. Ini adalah sebuah arena tarung bebas yang awalnya dihelat di antara santri dan jadi tontonan warga sejak dekade 1960-an.
“Sekarang sudah berubah seperti tinju. Kalau dulu murni mukul-nendang,” kata Latief, salah seorang bekas petarung Pencak Dor kepada Liputan6.com.

Latief merupakan satu di antara petarung Pencak Dor di era 1960-an. Ia merupakan santri Pondok Pesantren Lirboyo, yang kala itu diasuh almarhum Kiai Agus Maksum Jauhari atau Gus Maksum. Gus Maksum dikenal sebagai pendekar silat sekaligus yang pertama kali menjadikan Pencak Dor sebagai ajang hiburan pertarungan bebas antara santri atau warga.
Dalam satu dasawarsa terakhir, Pencak Dor menjadi tontonan yang digandrungi masyarakat Jawa Timur, khususnya Kediri dan Blitar. Acara ini diselenggarakan Pondok Pesantren Lirboyo dan Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI).
Ketua Umum GASMI Zainal Abidin menuturkan, Pencak Dor tak semata sebuah ajang pertarungan. Melainkan, sebuah ajang silaturahmi bersama. "Jiwanya Pencak Dor itu di atas lawan, di bawah kawan. Tidak ada menang kalah di sini,” kata lelaki yang akrab disapa Gus Bidin ini kepada Liputan6.com.

Gus Bidin yang juga merupakan keponakan almarhum Gus Maksum ini mengatakan, nilai dasar Pencak Dor tersebut dipahami semua petarung yang bertanding di atas ring. Tak jarang, gelak tawa muncul saat masing-masing petarung sedang bertanding.
Ini seperti yang terjadi saat Enting berhasil memukul balik Michael di atas ring. Michael yang sudah jatuh malah tertawa melihat Enting berjingkrak-jingkrak di atas ring dengan riang. Bahkan, Michael sempat-sempatnya menghadap penonton sembari mengacungkan dua jempolnya dan menjulurkan lidah tanda memelet.
Tak heran, riuh tepuk tangan kian membahana di Lapangan Kauman, meski gerimis kian menerpa penonton Pencak Dor. “Kalau sudah di ring Pencak Dor, niatnya sudah tidak (mencari kemenangan) lagi,” ucap Ali Salim Assegaf, salah satu santri dan petarung Pencak Dor di samping ring.

No comments:

Post a Comment